Populasi Ikan Sapu-Sapu Meningkat, Pakar: Bahaya Bagi Sungai Indonesia

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yogyakarta, SORDAH.Com – Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus kembali menjadi sorotan setelah pemusnahan hingga 10 ton dilakukan di Jakarta. Spesies invasif ini dinilai mengancam ekosistem sungai dan danau di berbagai wilayah Indonesia.

Penyebaran ikan sapu-sapu tidak hanya terjadi di ibu kota. Spesies ini sebelumnya telah ditemukan mendominasi perairan seperti Sungai Kresek di Kediri hingga Danau Limboto di Gorontalo. Keberadaannya dinilai mengganggu keseimbangan hayati dan mengancam kelangsungan ikan endemik.

Menanggapi kondisi tersebut, Guru Besar Bioteknologi Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Alim Isnansetyo, menegaskan bahwa pengendalian ikan sapu-sapu harus dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, penangkapan tidak boleh bersifat sesaat. Pengendalian harus dilakukan rutin agar populasi tidak kembali meningkat dalam waktu singkat.

Ia menjelaskan, dominasi ikan sapu-sapu tidak lepas dari kondisi lingkungan perairan yang tercemar. Spesies ini mampu bertahan di air berkualitas buruk dan tidak memiliki predator alami, sehingga mudah berkembang pesat.

Karena itu, perbaikan kualitas lingkungan menjadi langkah penting. Tanpa air yang bersih, ikan-ikan lokal akan sulit bertahan, sementara ikan sapu-sapu justru semakin mendominasi.

Selain itu, upaya penebaran kembali ikan endemik atau restocking dinilai perlu dilakukan setelah kondisi lingkungan membaik. Langkah ini bertujuan mengembalikan keseimbangan ekosistem perairan.

Dari sisi sosial, Alim juga menyoroti peran masyarakat dalam penyebaran ikan ini. Ia mengingatkan agar penghobi ikan hias tidak melepaskan ikan sapu-sapu ke perairan umum.

Ikan yang berasal dari Amerika Selatan ini awalnya dipelihara sebagai pembersih akuarium. Namun ketika ukurannya membesar, sebagian pemilik justru melepasnya ke sungai atau danau, sehingga memicu invasi di alam liar.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahaya konsumsi ikan sapu-sapu. Ikan ini umumnya hidup di perairan tercemar sehingga berpotensi mengandung logam berat yang berbahaya bagi kesehatan.

Tidak hanya untuk manusia, ikan ini juga tidak dianjurkan dijadikan pakan ternak atau pupuk. Kontaminasi yang ada berisiko merusak rantai ekosistem.

Sebagai solusi, ikan hasil tangkapan disarankan dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar menggunakan fasilitas khusus agar tidak mencemari lingkungan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penanganan spesies invasif membutuhkan langkah terpadu. Tanpa upaya berkelanjutan, ikan sapu-sapu dikhawatirkan terus menyebar dan memperparah kerusakan ekosistem perairan di Indonesia.

Penulis: Hendrico S
Editor: Jon Roi Purba

Berita Terkait

UGM Kembangkan Padi Gamagora 7, Varietas Adaptif untuk Hadapi Perubahan Iklim dan Krisis Pangan
Menjadi Ciptaan Baru Melalui Semangat Pro Deo et Patria yang Berdampak
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:21 WIB

Populasi Ikan Sapu-Sapu Meningkat, Pakar: Bahaya Bagi Sungai Indonesia

Sabtu, 18 April 2026 - 17:28 WIB

Menjadi Ciptaan Baru Melalui Semangat Pro Deo et Patria yang Berdampak

Berita Terbaru