Yogyakarta, SORDAH.Com — Inovasi varietas padi adaptif dinilai menjadi salah satu solusi strategis untuk menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Gadjah Mada bersama Keluarga Alumni Gadjah Mada Kalimantan Timur dan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara melakukan uji coba varietas padi Gamagora 7.
Gamagora 7 merupakan varietas padi yang dikembangkan agar mampu tumbuh pada lahan sawah maupun lahan tadah hujan, sehingga dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung produktivitas pertanian di berbagai kondisi lingkungan.
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM sekaligus inovator Gamagora 7, Prof Taryono, menjelaskan varietas tersebut lahir dari upaya menjawab tantangan pertanian di lahan tadah hujan yang selama ini menghadapi persoalan produktivitas, perubahan cuaca, serta serangan hama dan penyakit.
Menurutnya, Gamagora 7 memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari masa tanam yang singkat, produktivitas tinggi, hingga kandungan gizi yang lebih baik dibanding varietas pada umumnya.
“Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi, umur pendek, super genjah, dan kaya gizi,” ujar Taryono, Sabtu 30 Mei 2026.
Ia menjelaskan, pengembangan Gamagora 7 memerlukan perjalanan penelitian yang panjang. Proses perakitan varietas dimulai sejak 2008 dan baru resmi dilepas pada 2023 setelah melalui tahapan pengujian di delapan wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, hingga Nusa Tenggara Barat.
Menurut Taryono, pengembangan varietas unggul membutuhkan dukungan biaya besar, kesabaran, serta waktu yang tidak singkat.
Varietas Gamagora 7 tercatat mampu menghasilkan produktivitas hingga 9,7 ton gabah kering giling per hektare. Dari berbagai galur yang dikembangkan tim peneliti UGM, Gamagora 7 menjadi satu-satunya yang sejauh ini memperoleh izin komersialisasi dari pemerintah.
Meski secara administratif terdaftar sebagai padi sawah, Taryono menegaskan varietas tersebut sejatinya diperkenalkan sebagai padi adaptif untuk lahan tadah hujan.
Ia optimistis Gamagora 7 memiliki peluang besar mendukung kemandirian pangan nasional mengingat Indonesia memiliki area pertanian tadah hujan yang cukup luas. Namun demikian, keterbatasan benih dan dukungan pendanaan masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan lebih lanjut.
Taryono berharap penelitian unggulan yang telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat mendapat perhatian lebih besar, terutama dalam aspek pendanaan, fasilitas penelitian, dan pengembangan generasi lanjutan Gamagora setelah Gamagora 7.
Sementara itu, Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, Lalu Faudzul Idhi, mengatakan uji coba Gamagora 7 di Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi bagian dari upaya menjembatani inovasi kampus dengan kebutuhan riil petani di lapangan.
Menurutnya, KAGAMA berperan menguji kesiapan inovasi hasil riset UGM sebelum diterapkan lebih luas melalui proses hilirisasi.
“KAGAMA pada dasarnya menjadi penghubung untuk menguji produk hasil riset UGM sebelum diterapkan secara luas,” kata Idhi.
Kalimantan Timur dipilih sebagai lokasi uji coba karena memiliki tantangan pertanian yang kompleks, mulai dari pola iklim tropis yang berubah-ubah hingga kondisi tanah dengan unsur hara terbatas.
Karakteristik tersebut dinilai menjadi medan uji yang tepat untuk melihat kemampuan adaptasi Gamagora 7 dalam berbagai kondisi lahan.
Dalam pelaksanaannya, KAGAMA Kalimantan Timur melakukan pendampingan langsung kepada petani melalui edukasi, praktik budidaya, dan pengujian di lapangan.
Penanaman dilakukan di lahan seluas satu hektare yang dibagi menjadi dua bagian, yakni lahan basah dan lahan tadah hujan. Skema tersebut dilakukan untuk membuktikan klaim Gamagora 7 sebagai padi adaptif yang mampu tumbuh di dua karakteristik lahan berbeda.
“Kami melakukan pendampingan di lahan satu hektare yang dibagi untuk dua kondisi lahan berbeda. Saat ini tanaman sudah mulai tumbuh,” ungkap Idhi.
Hasil uji coba tersebut nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi UGM dalam menyempurnakan pengembangan Gamagora 7 sebelum diperluas ke wilayah lain di Kalimantan Timur seperti Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.
Apabila pengujian berjalan optimal, model kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah daerah, dan petani ini diharapkan dapat diterapkan di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Penulis: Lindung Silaban
Editor: Jon Roi Purba








