MEDAN, Sordah.com — Persoalan sampah di Kota Medan kian mengkhawatirkan. Wali Kota Medan, Rico Waas, secara tegas menyebut bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan anggaran terbatas, sementara volume sampah terus meningkat setiap hari.
Hal ini disampaikan saat menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD DKI Jakarta yang dipimpin Yuke Yurike di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan, Rabu (1/4/2026).
Produksi Sampah Tembus 1.500 Ton per Hari
Dengan luas wilayah sekitar 265 kilometer persegi dan jumlah penduduk yang bisa mencapai 4 juta jiwa pada siang hari, Medan menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah.
Saat ini, produksi sampah di Medan berkisar antara:
- 1.300 hingga 1.500 ton per hari
- Bisa melonjak hingga 3.000 ton saat banjir
- Bahkan pernah mencapai 7.000 ton dalam sehari
Lonjakan ini terjadi akibat banyaknya barang rusak yang berubah menjadi sampah.
TPA Terjun Terancam Overload 2029
Medan saat ini hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir, yakni TPA Terjun.
Dari total luas sekitar 14 hektare, hanya tersisa 2 hingga 3 hektare yang belum terisi, sementara timbunan sampah sudah mencapai sekitar 600.000 ton.
Jika tidak ada solusi cepat, TPA Terjun diprediksi akan mengalami overload pada 2029.
Butuh Dana Triliunan, APBD Tak Mampu
Pemko Medan berencana membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL. Namun, biaya yang dibutuhkan sangat besar.
Sebagai gambaran, pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel seperti di Jakarta bisa mencapai Rp1,7 triliun.
Dengan APBD Kota Medan sekitar Rp7 triliun, Rico Waas mengakui proyek tersebut sulit direalisasikan tanpa bantuan pemerintah pusat.
Dorong Solusi: Dari Gotong Royong hingga PSEL
Sebagai langkah awal, Pemko Medan telah menjalankan berbagai program, seperti:
- Sapa Warga setiap Minggu
- Gotong Royong Raya melibatkan 3.000 personel di 21 kecamatan
Selain itu, Medan juga masuk dalam 10 kota prioritas nasional untuk proyek PSEL, yang nantinya akan mengolah sampah menjadi energi listrik.
DPRD DKI: Sampah Juga Darurat di Jakarta
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mengakui bahwa persoalan sampah juga menjadi masalah serius di ibu kota, meskipun didukung anggaran besar.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya anggaran, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya.
Masalah sampah di Medan bukan sekadar soal anggaran, tetapi persoalan sistemik yang melibatkan infrastruktur, kebijakan, dan perilaku masyarakat.
Tanpa kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, ancaman krisis sampah di Medan hanya tinggal menunggu waktu.
Penulis: Lindung Silaban








