Tekan Harga Ayam, TPID Pematangsiantar Gelar OPM

Jumat, 25 September 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pematangsiantar, Sordah.com — Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Pematangsiantar bersama PD Pasar Horas Jaya (PHJ) kembali melakukan intervensi harga pangan melalui Operasi Pasar Murah (OPM). Kali ini, daging ayam ras dijual Rp40 ribu per kilogram atau lebih rendah dibandingkan harga pasar.

Operasi pasar tersebut digelar di Balerong Rajawali Pasar Dwikora, Senin (21/9/2026). Dalam kegiatan itu, PD Pasar Horas Jaya menyiapkan sekitar 400 kilogram daging ayam ras untuk masyarakat.

Ketua Harian TPID Kota Pematangsiantar, Junaedi Antonius Sitanggang, mengatakan intervensi tersebut dilakukan setelah pihaknya memantau perkembangan harga melalui Early Warning System (EWS) TPID dan SiHarapanku Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Menurut Junaedi, pemantauan tersebut menjadi dasar bagi TPID dalam mendeteksi perubahan harga dan ketersediaan bahan pokok, terutama komoditas yang berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi.

“Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah daging ayam ras yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren kenaikan harga. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi TPID untuk melakukan langkah intervensi secara terukur,” ujar Junaedi, Kamis (24/9/2026).

Ia menjelaskan, intervensi dilakukan dengan mempertimbangkan tiga hal utama, yakni menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat, memastikan ketersediaan pasokan, dan menjaga stabilitas harga di pasar.

“Sebagai bagian dari penguatan respons EWS, Pemerintah Kota Pematangsiantar melalui TPID berkolaborasi dengan PD Pasar Horas Jaya sebagai off-taker melaksanakan operasi pasar murah untuk komoditas daging ayam ras,” katanya.

Harga ayam ras yang sebelumnya berada di sekitar Rp50 ribu per kilogram kemudian diintervensi melalui operasi pasar. Pada pemantauan 17 September 2026, harga ayam ras berada pada kisaran Rp40 ribu hingga Rp47 ribu per kilogram.

Sebelumnya, TPID juga telah melakukan intervensi di Toko Pengendali dan Pantau Inflasi (Toppis) UD Azizah dengan intervensi harga sebesar Rp5.000 sehingga ayam ras dijual Rp42 ribu per kilogram.

Selanjutnya, pada 21 September 2026, operasi pasar kembali digelar di Balerong Rajawali Pasar Dwikora. Saat itu, harga ayam ras di Pasar Dwikora berada pada kisaran Rp43 ribu per kilogram, sedangkan melalui OPM TPID masyarakat dapat membeli dengan harga Rp40 ribu per kilogram.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan bonus cabai merah apabila melakukan pembayaran menggunakan QRIS.

Junaedi mengatakan perkembangan harga menunjukkan adanya tanda-tanda penurunan tekanan. Pada pekan kedua September 2026, harga ayam ras di Pasar Horas berada pada rata-rata Rp44 ribu per kilogram, sedangkan di Pasar Dwikora berada pada kisaran Rp42 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram.

“Perkembangan harga daging ayam ras pekan kedua mulai melandai. Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga telah mulai mereda dibandingkan titik kenaikan sebelumnya, meskipun tetap memerlukan pemantauan dan intervensi lanjutan,” ujarnya.

Menurut Junaedi, langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan pengendalian inflasi berbasis data. Pemerintah tidak hanya melakukan pemantauan harga, tetapi juga menyiapkan respons melalui intervensi pasar dan penguatan peran BUMD sebagai off-taker.

Melalui mekanisme EWS, perkembangan harga dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan intervensi. Sementara itu, PD Pasar Horas Jaya berperan dalam penyerapan, penyediaan, dan penyaluran komoditas kepada masyarakat.

“Ke depan, pengendalian harga daging ayam ras tidak hanya diarahkan pada penurunan harga sesaat, tetapi pada terciptanya stabilitas yang berkelanjutan dengan menjaga keterjangkauan harga konsumen, memastikan ketersediaan pasokan, serta memperlancar distribusi dari sumber pasokan sampai ke pasar,” kata Junaedi.

Ia menambahkan, pemantauan melalui EWS dan SiHarapanku akan terus dilakukan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan apakah intervensi perlu dilanjutkan, disesuaikan volumenya, atau dihentikan ketika harga dan pasokan kembali stabil.

Penulis: Handrico S.
Editor: Jon Roi Purba

Berita Terkait

Kriyanusa 2026, Produk Siantar Dilirik Nasional
Leadership Camp GAMPERA di Toba, BI Pematangsiantar Kupas Stabilitas Rupiah dan Ekonomi Global
Presiden Tegaskan APBN Jadi Instrumen Perlindungan Rakyat dan Penguat Kedaulatan Ekonomi Nasional
Dari Hobi Jadi Peluang Bisnis, Bobby Nasution Apresiasi Kontes Burung Berkicau
Presiden Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih
GAMPERA dan Bank Indonesia Pematangsiantar Klarifikasi Kegiatan Media di Balikpapan, Bahas Pengendalian Inflasi
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Presiden Prabowo Siapkan Langkah Jaga Stabilitas
KUR Bunga 0 Persen Hadir di Dairi, Pelaku UMKM Didorong Naik Kelas
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 20:30 WIB

Kriyanusa 2026, Produk Siantar Dilirik Nasional

Sabtu, 30 Mei 2026 - 21:09 WIB

Leadership Camp GAMPERA di Toba, BI Pematangsiantar Kupas Stabilitas Rupiah dan Ekonomi Global

Rabu, 20 Mei 2026 - 21:11 WIB

Presiden Tegaskan APBN Jadi Instrumen Perlindungan Rakyat dan Penguat Kedaulatan Ekonomi Nasional

Minggu, 17 Mei 2026 - 07:13 WIB

Dari Hobi Jadi Peluang Bisnis, Bobby Nasution Apresiasi Kontes Burung Berkicau

Sabtu, 16 Mei 2026 - 22:18 WIB

Presiden Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih

Berita Terbaru

Ekonomi

Kriyanusa 2026, Produk Siantar Dilirik Nasional

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:30 WIB