SAMOSIR, SORDAH.com– Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto memilih cara berbeda menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Menjelang 17 Agustus, Hasto mendaki Gunung Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (15/8/2026) malam.
Pendakian gunung setinggi 1.982 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas fisik. Hasto menjadikannya sebagai ruang refleksi sekaligus ziarah kebudayaan dan spiritual menjelang peringatan kemerdekaan.
Pusuk Buhit memiliki posisi penting dalam mitologi masyarakat Batak dan dipercaya berkaitan dengan asal-usul Si Raja Batak. Hasto melihat kisah tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya yang menyimpan nilai tentang hubungan manusia, alam, kehidupan, dan Sang Pencipta.
Hasto didampingi kuncen Pusuk Buhit, Sediaman Limbong. Dalam rombongan tersebut turut Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Rapidin Simbolon, Johannes Oberlin Tobing, Aryo Seno Bagaskoro dan Mohamad Guntur Romli.
Sebelum pendakian dimulai, Hasto mengajak rombongan berdoa. Ia secara khusus menyebut Bung Karno, Bung Hatta, para pahlawan bangsa, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, kader partai, serta seluruh rakyat Indonesia.
“Kita doakan Bung Karno, Bung Hatta, dan seluruh para pahlawan bangsa. Kita doakan Ibu Megawati Soekarnoputri, dan seluruh jajaran simpatisan, anggota dan kader PDI Perjuangan, serta rakyat Indonesia,” ujar Hasto.
Ia berharap momentum 81 tahun kemerdekaan semakin menguatkan bangsa Indonesia dengan semangat dan pemikiran para pendiri negara.
Dengan nada lebih ringan, Hasto kemudian berseloroh sebelum memulai perjalanan.
“Mari bakar lemak dengan naik gunung,” katanya sembari menyiapkan tongkat pendakian.
Berdoa untuk Keadilan dan Rakyat Kecil
Sekitar pukul 00.30 WIB, Hasto bersama Sediaman Limbong menyelesaikan rangkaian pendakian dan kembali ke pos.
Di Pusuk Buhit, Hasto mengatakan dirinya memanjatkan doa agar kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan benar-benar ditegakkan di Indonesia.
Ia juga berharap para pemimpin terus memperjuangkan kehidupan yang layak bagi rakyat kecil.
“Berdoa agar kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan betul-betul ditegakkan, dan seluruh pemimpin berjuang membebaskan rakyat marhaen. Pendidikan, kesehatan, dan penghidupan yang layak secara kemanusiaan. Rakyat kecil dihormati dengan seluruh martabatnya,” kata Hasto.
Menurut Hasto, suasana Pusuk Buhit yang dingin dan sunyi justru membuat proses doa dan perenungan terasa lebih khusyuk.
Di lokasi tersebut, ia juga melihat bendera Merah Putih berkibar. Sediaman Limbong kemudian menjelaskan makna warna putih dan merah yang masing-masing dimaknai sebagai kesucian dan kehidupan.
Selain Merah Putih, terdapat pula bendera berwarna putih, merah dan hitam yang merupakan bagian dari simbol kebudayaan Batak.
Sempat Terpeleset Saat Turun
Perjalanan turun dari Pusuk Buhit menjadi bagian tersendiri dari pendakian tersebut. Dilakukan dalam kondisi gelap, Hasto memilih berlari menuruni jalur selama sekitar satu setengah jam.
Ia bahkan mengaku sempat terpeleset dua kali.
“Saya sempat kepleset dua kali pas turun karena saya memang turun pun sambil berlari. Kepleset itu bagian dari ritual saat mendaki. Sebelumnya saat mendaki Gunung Kerinci pun saya kepleset sampai empat kali,” ujarnya sembari berseloroh.
Meski menghadapi jalur yang cukup menantang, Hasto tetap menyelesaikan perjalanan hingga kaki gunung.
Baginya, pendakian Pusuk Buhit menjelang HUT ke-81 RI memiliki makna lebih luas daripada sekadar olahraga. Perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa sekaligus merenungkan persoalan yang masih dihadapi masyarakat.
Ingin Daki Gunung Tambora
Setelah menuntaskan pendakian Pusuk Buhit, Hasto ternyata telah memiliki rencana untuk kembali mendaki gunung.
Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu target berikutnya. Gunung tersebut memiliki ketinggian sekitar 2.851 mdpl.
Hasto tertarik mendaki Tambora bukan hanya karena tantangan jalurnya, tetapi juga karena sejarah letusannya yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia di berbagai wilayah dunia.
“Berdasarkan kejadian, letusan Tambora mengubah peradaban. Letusannya disebut menyebabkan tahun tanpa musim panas di berbagai belahan dunia,” kata Hasto.
Ia juga berencana menonton film dokumenter 14 Peaks: Nothing Is Impossible yang mengisahkan pendaki asal Nepal, Nirmal Purja atau Nimsdai, bersama timnya menaklukkan 14 gunung dengan ketinggian lebih dari 8.000 mdpl dalam 189 hari.
Pendakian Pusuk Buhit akhirnya menjadi bagian dari rangkaian refleksi Hasto menjelang peringatan kemerdekaan. Dari gunung yang sarat dengan sejarah dan kebudayaan Batak itu, ia membawa pesan tentang pentingnya menjaga kebudayaan, merawat alam, serta memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan melalui keadilan dan kehidupan yang bermartabat bagi rakyat.
Penulis: Dedy Hutajulu






