JAKARTA, SORDAH.com – Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen minyak atsiri terbesar di dunia. Namun selama ini, sebagian besar komoditas tersebut masih dijual ke luar negeri dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi yang rendah. Kini, Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menghadirkan teknologi pengolahan yang disebut mampu mendongkrak nilai tambah minyak atsiri hingga 20 kali lipat.
Inovasi itu dipaparkan Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Egi Agustian, dalam agenda Launching dan Dialog Produk Inovasi pada rangkaian BRIN Goes to Industry Series 3 di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis 16 April 2026.
Menurut Egi, minyak atsiri dapat dihasilkan dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, akar, hingga batang. Selama ini potensi besar tersebut belum dimaksimalkan karena mayoritas masih berhenti pada tahap produksi bahan baku.
Padahal, melalui proses pengolahan lanjutan, minyak atsiri bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi untuk berbagai sektor industri. Nilai ekonominya bahkan berpotensi meningkat mulai dari 5 kali hingga 20 kali lipat dibanding dijual mentah.
BRIN saat ini mengembangkan tiga teknologi utama untuk mempercepat hilirisasi minyak atsiri, yakni distilasi molekuler, distilasi fraksinasi, serta ekstraksi berbasis fluida superkritik. Teknologi ini digunakan untuk memisahkan senyawa aktif tertentu dengan tingkat kemurnian lebih tinggi.
Setelah proses pemurnian, senyawa tersebut dapat diolah lagi menjadi bahan turunan atau langsung diformulasikan menjadi produk siap pakai. Tahap formulasi dinilai sangat penting karena menentukan kualitas akhir produk, termasuk menjaga kestabilan, efektivitas, dan daya tahan aroma.
Produk turunan minyak atsiri sendiri memiliki pasar luas. Pemanfaatannya mencakup industri kosmetik, pangan, hingga farmasi. Contohnya produk perawatan kulit, bahan makanan berbasis aroma alami, sampai kebutuhan terapeutik.
Egi menilai penguasaan teknologi hilir menjadi kunci agar Indonesia tidak terus terjebak menjual bahan mentah lalu membeli kembali produk jadi dari luar negeri dengan harga lebih mahal.
Dengan pengembangan ini, BRIN berharap industri nasional dapat mengadopsi teknologi tersebut dari tahap laboratorium hingga skala komersial. Jika berhasil, daya saing produk Indonesia di pasar global akan meningkat, sekaligus membuka peluang kesejahteraan lebih besar bagi petani dan pelaku usaha di sektor hulu.
Selain berdampak ekonomi, inovasi ini juga dinilai mendukung keberlanjutan lingkungan karena mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara lebih efisien dan bernilai tinggi.
penulis: Lindung Silaban
Editor : Dedy Hu








