Minyak Atsiri Indonesia Bisa Naik Nilai 20 Kali Lipat, BRIN Bongkar Teknologi yang Siap Ubah Ekspor Bahan Mentah Jadi Produk Premium

Jumat, 17 April 2026 - 01:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, SORDAH.com – Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen minyak atsiri terbesar di dunia. Namun selama ini, sebagian besar komoditas tersebut masih dijual ke luar negeri dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi yang rendah. Kini, Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menghadirkan teknologi pengolahan yang disebut mampu mendongkrak nilai tambah minyak atsiri hingga 20 kali lipat.

Inovasi itu dipaparkan Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Egi Agustian, dalam agenda Launching dan Dialog Produk Inovasi pada rangkaian BRIN Goes to Industry Series 3 di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis 16 April 2026.

Menurut Egi, minyak atsiri dapat dihasilkan dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, akar, hingga batang. Selama ini potensi besar tersebut belum dimaksimalkan karena mayoritas masih berhenti pada tahap produksi bahan baku.

Padahal, melalui proses pengolahan lanjutan, minyak atsiri bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi untuk berbagai sektor industri. Nilai ekonominya bahkan berpotensi meningkat mulai dari 5 kali hingga 20 kali lipat dibanding dijual mentah.

BRIN saat ini mengembangkan tiga teknologi utama untuk mempercepat hilirisasi minyak atsiri, yakni distilasi molekuler, distilasi fraksinasi, serta ekstraksi berbasis fluida superkritik. Teknologi ini digunakan untuk memisahkan senyawa aktif tertentu dengan tingkat kemurnian lebih tinggi.

Setelah proses pemurnian, senyawa tersebut dapat diolah lagi menjadi bahan turunan atau langsung diformulasikan menjadi produk siap pakai. Tahap formulasi dinilai sangat penting karena menentukan kualitas akhir produk, termasuk menjaga kestabilan, efektivitas, dan daya tahan aroma.

Produk turunan minyak atsiri sendiri memiliki pasar luas. Pemanfaatannya mencakup industri kosmetik, pangan, hingga farmasi. Contohnya produk perawatan kulit, bahan makanan berbasis aroma alami, sampai kebutuhan terapeutik.

Egi menilai penguasaan teknologi hilir menjadi kunci agar Indonesia tidak terus terjebak menjual bahan mentah lalu membeli kembali produk jadi dari luar negeri dengan harga lebih mahal.

Dengan pengembangan ini, BRIN berharap industri nasional dapat mengadopsi teknologi tersebut dari tahap laboratorium hingga skala komersial. Jika berhasil, daya saing produk Indonesia di pasar global akan meningkat, sekaligus membuka peluang kesejahteraan lebih besar bagi petani dan pelaku usaha di sektor hulu.

Selain berdampak ekonomi, inovasi ini juga dinilai mendukung keberlanjutan lingkungan karena mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara lebih efisien dan bernilai tinggi.

penulis: Lindung Silaban

Editor : Dedy Hu

Berita Terkait

Asap Karhutla Selimuti Sumut, Sutarto Desak Pemerintah Tangani Dampak Secara Serius
Mikhael Febrian Hutahaean Raih Emas Pertama SOIna Sumut di Pesonas II Kupang
Hangat dan Penuh Kekeluargaan, Batak Saroha NTT Sambut Kontingen SOIna Sumut di Kupang
Technical Meeting Pesonas II di Kupang, Tujuh Cabor Matangkan Kesiapan Pertandingan
Rapidin Simbolon Berusia 59 Tahun, Pengabdian kepada Rakyat Jadi Sorotan
59 Siswa di Galang Terima Tali Asih PDI Perjuangan, Keamanan MBG Diminta Diperkuat
Perbankan Indonesia Hadapi Tujuh Tantangan Menuju 2027, dari AI hingga Serangan Siber
Sutrisno Pangaribuan Klaim MK Bisa Buka Jalan Indonesia Punya Wapres Baru Jika Syarat Pendidikan Gibran Bermasalah
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Asap Karhutla Selimuti Sumut, Sutarto Desak Pemerintah Tangani Dampak Secara Serius

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:38 WIB

Mikhael Febrian Hutahaean Raih Emas Pertama SOIna Sumut di Pesonas II Kupang

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Hangat dan Penuh Kekeluargaan, Batak Saroha NTT Sambut Kontingen SOIna Sumut di Kupang

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:33 WIB

Technical Meeting Pesonas II di Kupang, Tujuh Cabor Matangkan Kesiapan Pertandingan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:45 WIB

Rapidin Simbolon Berusia 59 Tahun, Pengabdian kepada Rakyat Jadi Sorotan

Berita Terbaru