JAKARTA, SORDAH.com – Sampah yang selama ini dianggap masalah ternyata bisa berubah menjadi sumber energi bernilai tinggi. Melalui teknologi modern, tumpukan limbah dapat diolah menjadi listrik ramah lingkungan yang sekaligus membantu mengurangi pencemaran. Konsep ini kini didorong sebagai jawaban atas dua tantangan besar Indonesia, yakni darurat sampah dan kebutuhan energi masa depan.
Gagasan tersebut dipaparkan Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Wiharja, dalam Media Lounge Discussion di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis 16 April 2026.
Menurut Wiharja, persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di banyak wilayah Indonesia. Masalah ini tidak hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta, tetapi juga meluas hingga daerah dan desa. Dampaknya beragam, mulai dari pencemaran lingkungan, ancaman banjir, gangguan kesehatan, hingga beban kebutuhan energi.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan hanya membuang sampah, tetapi mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Salah satunya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau PLTSa.
Wiharja menegaskan bahwa listrik yang dihasilkan sebenarnya merupakan nilai tambah. Tujuan utama PLTSa adalah mengurangi volume sampah secara signifikan melalui proses yang lebih ramah lingkungan.
Proses pengolahan dimulai dari pemilahan sampah. Material yang masih bisa didaur ulang dipisahkan, begitu juga limbah berbahaya dan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan. Tahap ini disebut sangat penting agar sistem berjalan optimal.
Setelah itu, sampah masuk ke bunker penampungan sebelum dibakar menggunakan teknologi mekanis. Pembakaran dilakukan pada suhu tinggi minimal 850 derajat Celsius agar proses berlangsung sempurna dan meminimalkan potensi pencemaran.
Panas dari pembakaran kemudian digunakan untuk memanaskan air hingga menjadi uap bertekanan tinggi. Uap tersebut memutar turbin yang terhubung ke generator, lalu menghasilkan listrik. Singkatnya, sampah diubah menjadi panas, panas menjadi uap, uap memutar turbin, lalu tercipta energi listrik.
Meski memakai sistem pembakaran, fasilitas PLTSa dirancang dengan standar lingkungan ketat. Teknologi pengendalian emisi dipasang untuk menyaring gas buang, menurunkan suhu asap, dan menekan polusi udara agar tetap aman.
Tidak hanya itu, sisa pembakaran berupa abu juga masih bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan campuran produk konstruksi seperti conblock dan genting. Sistem pengolahan air limbah pun disiapkan agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
Pengembangan PLTSa di Indonesia mulai dipercepat sejak 2017. Salah satu contohnya berada di TPA Bantargebang yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Fasilitas tersebut saat ini masih berskala kecil dengan kapasitas sekitar 100 ton sampah per hari dan listriknya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal.
Teknologi ini dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.
Penulis : Lindung Silaban
Editor : Dedy Hu








