Oleh: Chrisday Natalia Hutabarat
SORDAH.Com – Pukul empat dini hari. Rumah masih gelap. Kota Padang Sidempuan belum sepenuhnya terjaga. Namun, bagi Daniel Sinurat, pagi seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan yang harus dijalani.
Ia bersiap meninggalkan rumah menuju Rantau Prapat untuk kembali menjalankan tugas sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Setiap awal pekan, perjalanan yang sama kembali dimulai. Rumah, istri, dan tiga anak harus ditinggalkan untuk sementara demi pekerjaan dan pengabdian kepada negara.
Sebelum melangkah keluar rumah, Daniel selalu melakukan hal yang sama. Ia memeluk istrinya, lalu mendatangi kamar ketiga anaknya yang masih tertidur. Satu per satu kening mereka diciumnya tanpa membangunkan mereka.
“Bukan karena saya tidak ingin berpamitan. Justru kalau mereka bangun, rasanya akan jauh lebih berat untuk berangkat,” kata Daniel.
Bagi Daniel, perjalanan menuju tempat tugas bukan sekadar perjalanan antarkota. Ada bagian dari pikirannya yang tetap tertinggal di rumah. Ia tahu, ketika anak-anaknya bangun dan memulai aktivitas, dirinya sudah berada jauh dari keluarga.
Inilah kehidupan yang harus dijalani Daniel dalam long distance marriage atau LDM. Ia bekerja di kota yang berbeda, sementara keluarganya tetap berada di Padang Sidempuan.
Akhir Pekan Menjadi Waktu yang Paling Dinanti
Jika Senin dini hari menjadi waktu yang berat, akhir pekan justru menjadi hari yang paling dinanti.
Begitu tiba di rumah, Daniel berusaha meninggalkan seluruh urusan pekerjaan di luar pintu. Waktu yang tersedia sepenuhnya ia gunakan untuk istri dan ketiga anaknya.
Anak-anak menyambut kepulangannya dengan antusias. Mereka ingin bercerita, bermain, menunjukkan gambar atau mainan baru. Tidak ada agenda mewah yang harus dilakukan.
“Kami tidak harus pergi ke mana-mana. Bermain di rumah, bercanda di ruang keluarga, atau mendengarkan cerita mereka saja sudah membuat saya merasa sangat bahagia,” ujarnya.

Bagi Daniel, kebersamaan tidak ditentukan oleh tempat atau biaya. Percakapan sederhana dan tawa anak-anak justru menjadi cara untuk mengganti hari-hari yang hilang karena jarak.
Menjalani kehidupan sebagai keluarga yang terpisah kota tentu tidak selalu mudah.
Ketika Pelukan Harus Digantikan Layar
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika salah seorang anak Daniel mengalami demam tinggi. Saat itu, pekerjaan di kantor sedang padat karena mendekati batas akhir pelaporan pajak.
Telepon dari istrinya membawa kabar yang membuat Daniel cemas. Anak yang sedang sakit terus mencari ayahnya.
Daniel hanya bisa melakukan video call. Dari layar telepon genggam, ia melihat anaknya yang biasanya ceria dalam kondisi lemah. Ia berusaha menenangkan dari kejauhan, meskipun yang sebenarnya ingin dilakukan adalah berada di samping anak dan memeluknya.
“Tidak bisa memeluk anak ketika dia sedang sakit rasanya sangat berat. Saat itu saya benar-benar merasa tidak berdaya,” katanya.
Dalam kondisi seperti itu, teknologi menjadi penghubung yang sangat berarti. Video call memang tidak mampu menggantikan kehadiran fisik, tetapi menjadi cara Daniel untuk tetap hadir dalam kehidupan anak-anaknya.
Setiap hari kerja, komunikasi dengan keluarga tetap dijaga. Anak-anak bercerita tentang sekolah, menunjukkan gambar, memperlihatkan mainan, atau sekadar berbagi cerita kecil tentang aktivitas mereka.
Bagi Daniel, percakapan singkat tersebut memiliki arti besar.
“Saya ingin mereka tahu bahwa walaupun Ayah sedang jauh, Ayah tetap mendengarkan semua cerita mereka.”
Belajar Menjadi Ayah dari Jarak Jauh
Jarak juga membuat Daniel belajar kembali tentang arti menjadi orang tua.
Pada awal menjalani LDM, ia mengaku pernah merasa bersalah karena tidak selalu berada di rumah. Perasaan itu membuatnya cenderung ingin memenuhi keinginan anak-anak setiap kali pulang.
Namun, ia kemudian menyadari bahwa memberikan kasih sayang tidak berarti selalu mengatakan iya.
“Kalau saya selalu menuruti keinginan mereka hanya karena merasa bersalah, sebenarnya saya sedang memuaskan perasaan saya sendiri, bukan mendidik anak.”
Kini, Daniel berusaha menjadi ayah yang konsisten. Aturan yang telah disepakati bersama istrinya tetap berlaku meskipun dirinya berada jauh dari rumah.
Baginya, anak-anak perlu melihat bahwa ayah dan ibu memiliki kesepahaman dalam mendidik mereka.
“Anak-anak harus melihat bahwa Ayah dan Ibu berjalan di jalur yang sama.”
Ketika anak mengalami tantrum atau membutuhkan teguran, Daniel juga memilih untuk tidak menggunakan bentakan. Ia berusaha menjelaskan bahwa teguran tidak pernah berarti berkurangnya kasih sayang.
“Ayah menegur karena Ayah sayang. Nanti kalau Ayah pulang, kita pelukan, ya.”
Kalimat sederhana itu menjadi cara Daniel menjembatani ketegasan seorang ayah dengan kasih sayang yang tetap ingin ia tunjukkan.
Membangun Kenangan dari Hal-Hal Sederhana
Daniel percaya, hubungan antara orang tua dan anak tidak selalu membutuhkan hadiah mahal.
Setiap akhir pekan, ia memiliki rutinitas sederhana bersama anak-anak. Salah satunya adalah “ritual mandi heboh”, ketika waktu mandi berubah menjadi sesi bermain yang dipenuhi tawa.
Pada malam hari, ia membacakan kisah tokoh-tokoh dalam Alkitab sebelum anak-anak tidur.
Rutinitas tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi ketiga anaknya, itulah momen yang selalu dinantikan setiap kali sang ayah pulang.
“Dari situ saya belajar, yang paling mereka ingat bukan apa yang saya belikan, tetapi waktu yang kami habiskan bersama,” tutur Daniel.
Pengabdian dan Cinta Keluarga
Di balik perjalanan pulang-pergi setiap pekan, Daniel memiliki alasan lain yang membuatnya tetap menjalani pekerjaan tersebut.
Sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak, ia memandang penerimaan negara bukan sekadar angka. Baginya, pajak yang dihimpun akan kembali kepada masyarakat melalui pembangunan, pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai fasilitas publik.
Keyakinan itu menjadi salah satu alasan Daniel mampu menjalani kehidupan yang tidak selalu mudah.
Ia berharap ketika ketiga anaknya tumbuh dewasa pada era Indonesia Emas 2045, mereka dapat menikmati hasil pembangunan yang saat ini diperjuangkan oleh banyak orang, termasuk dirinya.
Bagi Daniel, mengabdi kepada negara dan mencintai keluarga bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya justru berjalan beriringan.
Untuk Tiga Anak yang Menjadi Alasan Pulang
Ada pesan yang ingin Daniel sampaikan kepada ketiga anaknya suatu hari nanti.
Ia ingin mereka memahami bahwa keputusan bekerja jauh dari rumah bukan karena kurangnya kasih sayang. Perjalanan, rasa lelah, dan perpisahan yang harus dilalui merupakan bagian dari perjuangan seorang ayah untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
“Mungkin saya tidak selalu ada di setiap momen kalian. Ada tawa yang tidak sempat saya dengar langsung, ada air mata yang tidak sempat saya usap. Tapi percayalah, tidak ada satu hari pun ketika saya berhenti memikirkan kalian.”
Bagi Daniel Sinurat, jarak memang dapat memisahkan dua kota. Namun, jarak tidak pernah cukup kuat untuk memisahkan seorang ayah dari anak-anak yang menjadi alasan ia terus pulang. (*)






