MEDAN, SORDAH — Kemiskinan pernah membatasi masa depan dr Sofyan Tan. Tumbuh di rumah berdinding tepas, beratap nipah, dan berlantaikan tanah di Sunggal, Sumatera Utara, ia juga mengalami diskriminasi rasial dalam perjalanan pendidikannya. Pengalaman itu tidak berhenti sebagai luka pribadi. Sofyan menjadikannya alasan untuk membangun jalan pendidikan bagi anak-anak yang menghadapi keterbatasan serupa.
Puluhan tahun kemudian, perjuangan tersebut berkembang melalui Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM). Lembaga pendidikan itu telah menjangkau lebih dari 7.500 anak asuh, serta melahirkan ribuan sarjana dan puluhan dokter dari keluarga miskin.
Kisah tersebut disampaikan Sofyan Tan, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dalam podcast bertajuk “Mengubah Dunia dari Sumatera Utara” di Hotel Santika Dyandra Medan, Minggu (18/10/2026). Acara itu menjadi bagian dari Pelatihan Guru Gaharu atau Gerakan Semua Orang Pembaharu yang diselenggarakan Ashoka Asia Tenggara.
Di hadapan para guru SMP dan SMA dari berbagai daerah di Sumatera Utara, Sofyan mengingat kembali satu titik penting dalam hidupnya: dukungan Ashoka pada 1989. Pengakuan sebagai Fellow Ashoka disertai tunjangan rutin yang membantunya melanjutkan perjuangan di bidang pendidikan.
Dukungan itu datang ketika Sofyan harus menentukan arah hidup. Ia memilih meninggalkan profesi dokter, cita-cita yang telah dibawanya sejak kecil, demi mengembangkan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Tanpa Ashoka, saya tidak bisa menjadi seperti saat ini. Penghargaan Fellow Ashoka pada tahun 1989 memberi saya stipendium dan jaminan biaya untuk melanjutkan perjuangan di dunia pendidikan, meskipun saat itu saya harus merelakan jubah dokter yang saya impi-impikan sejak kecil,” ujar Sofyan.
Keputusan tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Sebagai anak kedelapan dari keluarga miskin, Sofyan pernah menghadapi kenyataan bahwa dirinya hampir diserahkan kepada orang lain karena keterbatasan ekonomi keluarga. Ia juga menyaksikan ketegangan rasial, termasuk pembakaran sekolah-sekolah Tionghoa pada 1966.
Pengalaman diskriminasi berlanjut ketika ia menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist dan menjalani ujian negara di Universitas Sumatera Utara. Hambatan yang dialaminya memperlihatkan bahwa kesempatan untuk maju tidak selalu ditentukan oleh kemampuan dan kemauan seseorang.
Dari pengalaman itulah, Sofyan sampai pada keyakinan bahwa kemiskinan dan diskriminasi perlu dijawab dengan perubahan yang lebih mendasar. Bantuan sesaat mungkin meringankan kesulitan, tetapi pendidikan dapat memperluas pilihan hidup dan membuka kesempatan yang sebelumnya tertutup.
Dengan pinjaman awal Rp 60 juta, ia mendirikan YPSIM. Sekolah itu dibangun dengan gagasan bahwa anak-anak dari latar belakang suku, agama, dan kondisi ekonomi berbeda dapat belajar dalam lingkungan yang sama. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, tetapi juga membangun toleransi dan kesetaraan.
Jalan menuju cita-cita itu tidak mudah. Keterbatasan keuangan dan penolakan dari sebagian masyarakat menjadi bagian dari perjuangan awal. Tunjangan Rp 500.000 per bulan dari Ashoka pada 1989 membantu Sofyan memenuhi kebutuhan hidup, mengajar, dan menghadapi persoalan keuangan ketika sekolah mulai dibangun.
Namun, arti dukungan tersebut melampaui nilai uang. Pengakuan dari Ashoka menguatkan keyakinannya bahwa gagasan pendidikan inklusif layak diperjuangkan, meskipun hasilnya tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat.
Kini, YPSIM memiliki aset pendidikan bernilai ratusan miliar rupiah. Akan tetapi, bagi Sofyan, capaian yang paling penting bukanlah besarnya aset, melainkan jumlah anak yang memperoleh kesempatan untuk mengubah masa depan mereka.
“Butuh waktu sangat lama untuk membangun dan melahirkan ini semua. Hari ini, dari modal nekat dan dukungan jejaring pembaharu, YPSIM telah memiliki aset pendidikan senilai ratusan miliar dan, yang paling berharga, melahirkan lebih dari 7.500 anak asuh serta mencetak ribuan sarjana dan puluhan dokter dari keluarga miskin,” katanya.
Perubahan bisa dimulai dari lingkungan terdekat
Gagasan bahwa perubahan tidak harus menunggu sumber daya yang sempurna juga disampaikan Pendiri Kiddos Explorer, Deasy M. Sitompul. Dalam kegiatan yang sama, ia berbagi pengalaman membangun komunitas pembelajaran alternatif berbasis keluarga dan homeschooling.
Menurut Deasy, proses belajar dapat tumbuh dari lingkungan sekitar. Anak-anak bisa memperoleh pengalaman, berinteraksi, dan mengenal perbedaan tanpa harus selalu menunggu tersedianya fasilitas pendidikan yang lengkap.
“Ketika kita ingin fokus mendidik anak dan menciptakan perubahan, jangan menunggu semua sarana tersedia. Gunakan apa yang ada, dan jika belum ada, buatlah inisiatif itu sendiri,” tutur Deasy.
Pengalaman Sofyan dan Deasy menunjukkan bahwa perubahan pendidikan dapat berangkat dari inisiatif yang berbeda, tetapi bertemu pada keyakinan yang sama: keterbatasan bukan alasan untuk menunda tindakan. Sekolah, keluarga, dan komunitas dapat menjadi ruang untuk memperluas kesempatan anak.
Pelatihan Guru Gaharu yang diikuti para guru SMP dan SMA dari berbagai daerah di Sumatera Utara menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai upaya mendorong perubahan tersebut. Hadir dalam kegiatan itu Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni.
Kisah Sofyan juga memperlihatkan pentingnya jejaring yang mendukung para penggerak perubahan. Dukungan yang diterima seorang individu dapat berkembang menjadi manfaat bagi banyak orang ketika digunakan untuk membangun kesempatan yang lebih luas.
Dari rumah sederhana di Sunggal, perjuangan Sofyan bergerak melampaui upaya mengubah nasibnya sendiri. Melalui pendidikan inklusif, ia berusaha memastikan bahwa kemiskinan dan latar belakang sosial tidak menjadi batas bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan dan menentukan masa depan mereka.
Pendidikan, dalam perjalanan itu, bukan sekadar jalan keluar bagi satu keluarga. Pendidikan menjadi upaya panjang untuk memutus pewarisan ketimpangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penulis: Dedy Hutajulu


