Yogyakarta, SORDAH.Com – Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi langkah Leni Ismawati (18) untuk mengejar pendidikan tinggi. Gadis asal Gunungkidul tersebut berhasil mewujudkan impiannya menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah lolos Program Studi Akuntansi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol dari UGM.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Leni telah menyimpan cita-cita untuk melanjutkan kuliah di UGM. Perjuangan panjang yang ia jalani akhirnya membuahkan hasil dan menjadi kebanggaan bagi keluarga yang selama ini mendukung penuh pendidikannya.
Leni merupakan anak tunggal dari pasangan Semojo (50) dan Erni (37), warga Gunungkidul yang sehari-hari mengandalkan pekerjaan mengurus sawah dan ternak dengan penghasilan yang tidak tetap. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Erni juga sering bekerja sebagai buruh tani di lahan milik tetangga.
Meski berasal dari keluarga sederhana, kedua orang tua Leni selalu menanamkan pentingnya pendidikan. Erni mengaku dirinya hanya lulusan SMP, sedangkan suaminya lulusan SD. Pengalaman tersebut menjadi motivasi agar putrinya memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik.
“Saya selalu mendorong anak saya untuk sekolah. Bagaimanapun caranya, biaya nanti bisa dicari. Saya tidak ingin dia menyesal seperti orang tuanya,” ujar Erni, Senin (29/6/2026).
Dukungan dan pesan dari orang tua menjadi kekuatan bagi Leni untuk berani mengejar impian. Ia mengaku sempat merasa ragu, tetapi dorongan sang ibu membuatnya mantap mendaftar ke UGM.
“Ibu selalu berpesan agar jangan takut mengejar mimpi. Pesan itu yang membuat saya berani mencoba mendaftar di jurusan Akuntansi UGM,” kata Leni.
Sejak kecil, Leni juga dibiasakan hidup sederhana dan mandiri. Erni mengajarkan bahwa setiap keinginan harus diperoleh melalui usaha dan kerja keras. Leni dibiasakan menabung dari uang saku serta belajar mengatur kebutuhan pribadi.
Perjalanan menuju kampus impian juga tidak mudah. Saat melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Wonosari, Leni harus tinggal di kos karena jarak rumah yang cukup jauh. Kondisi tersebut justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri dan mampu mengatur waktu.
Berbeda dengan sebagian teman-temannya yang mengikuti bimbingan belajar tambahan, Leni memilih belajar secara mandiri karena keterbatasan ekonomi keluarga. Ia menemukan waktu belajar terbaik pada dini hari dan rutin bangun pukul 02.00 untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Leni berhasil meraih peringkat kedua dalam daftar siswa eligible di sekolahnya, yang menjadi salah satu modal untuk mengikuti jalur SNBP.
Ketertarikan Leni terhadap bidang ekonomi mulai tumbuh saat duduk di bangku SMA. Ia mengambil mata pelajaran peminatan ekonomi dan semakin mendalami akuntansi saat kelas 12.
“Sejak kelas 12 saya mulai memahami akuntansi dan melihat prospek karier ke depannya. Dari situ saya merasa bidang ini sesuai dengan minat saya,” ungkapnya.
Prestasi Leni juga telah terlihat sejak pendidikan dasar. Ia konsisten meraih peringkat akademik tinggi hingga menjadi lulusan terbaik saat SMP. Selain akademik, ia aktif dalam berbagai kegiatan seperti Rohani Islam (Rohis), Palang Merah Remaja (PMR), Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) Kapanewon Wonosari, serta pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi tingkat kabupaten.
Bagi Leni, perjalanan pendidikan bukan lagi hanya tentang mengejar nilai atau prestasi, tetapi menjadi jalan untuk mengubah masa depan.
“Dulu saya belajar untuk mendapatkan peringkat dan hadiah. Sekarang saya belajar untuk membuka kesempatan mengubah kehidupan, baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan,” ujarnya.
Leni berharap perjalanan kuliahnya di UGM dapat menjadi awal baru untuk mengembangkan kemampuan dan meraih cita-cita.
“Saya berharap Akuntansi UGM dapat membuka lebih banyak jalan dan memberikan kesempatan baik untuk masa depan saya,” harapnya.
Kisah Leni menjadi bukti bahwa semangat belajar, dukungan keluarga, dan kerja keras mampu membuka peluang besar, bahkan ketika seseorang berasal dari kondisi ekonomi yang terbatas.
Penulis: Lindung Silaban
Editor: Jon Roi Purba








